Tak Lagi Gersang, Begini Cara China Menghijaukan ‘Gurun Kematian’ Taklamakan

Saksikan bagaimana kegigihan manusia mampu mengubah gurun pasir yang ganas menjadi perisai hijau pelindung kehidupan melalui proyek kolosal sepanjang 3.000 kilometer.

Ringkasan:
Gurun Taklamakan di China kini dikelilingi oleh sabuk hijau sepanjang 3.000 kilometer untuk menahan laju pasir yang mengancam pemukiman.
Proyek kolosal ini menggunakan teknologi jaring jerami dan vegetasi tahan kering untuk menstabilkan ekosistem di wilayah Xinjiang.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa intervensi teknologi dan ekologi yang tepat mampu membalikkan dampak desertifikasi yang ekstrem.

Mengapa Gurun Taklamakan Sempat Menjadi Mimpi Buruk bagi Petani?

Bayangkan sebuah wilayah di mana langit mendadak gelap tertutup debu setiap kali angin kencang berhembus dari arah selatan. Sahabat Hijau, inilah realitas yang dihadapi warga di sekitar Gurun Taklamakan selama puluhan tahun akibat desertifikasi yang tak terkendali. Perluasan gurun ini bukan sekadar angka, melainkan ancaman nyata yang siap menelan desa dan lahan pertanian dalam sekejap mata.

Dulu, debu dan pasir yang terbang bebas menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup warga lokal. Banyak dari mereka terpaksa pindah ke tempat lain yang lebih aman

Data menunjukkan bahwa bukit pasir di Taklamakan bisa bergerak sejauh 20 meter setiap tahunnya menuju pemukiman warga. Sahabat Hijau perlu tahu bahwa setiap tahun, badai pasir ini membuang sekitar 1,3 juta ton debu ke atmosfer yang merusak kesehatan paru-paru. Kehilangan lahan subur seluas 150.000 hektar di Xinjiang setara dengan hilangnya area pertanian yang mampu memberi makan 2 juta orang setiap musimnya.

Seorang warga lokal bernama Li Wei, yang bekerja sebagai petani gandum di pinggiran wilayah Hotan, menceritakan kepedihannya saat melihat lahannya tertutup pasir. “Dahulu, saya harus menggali pintu rumah saya setiap pagi hanya agar anak-anak bisa berangkat sekolah,” ujarnya dengan nada penuh kecemasan. Masalah ini menjadi sangat mendesak karena produktivitas lahan menurun hingga 40 persen akibat intrusi pasir yang bersifat basa tinggi.

Kondisi di Taklamakan memberikan gambaran bahwa masalah lingkungan di Xinjiang adalah krisis kemanusiaan yang mendalam. Kita harus memahami bahwa tanpa tindakan, jutaan ton pasir akan terus bergerak menghancurkan masa depan ekosistem yang ada.

Sabuk Hijau 3.000 KM: Jurus China Mengunci Gerak Pasir

Metode jaring jerami menjadi fondasi utama sebelum pepohonan kuat mulai ditanam di lahan gersang ini.

Solusi utama yang dilakukan adalah membangun sabuk hijau melingkar sepanjang 3.000 kilometer yang mengelilingi seluruh tepian Gurun Taklamakan. Sahabat Hijau, fokus utama proyek ini adalah menciptakan penghalang fisik yang hidup agar pasir tidak lagi memiliki ruang untuk berpindah. Langkah demi langkah dimulai dengan pemasangan jaring jerami berbentuk kotak yang berfungsi sebagai penstabil pasir sebelum bibit pohon ditanam.

Keberhasilan proyek ini terlihat jelas di wilayah Qira, di mana sabuk hijau telah berhasil mendorong mundur garis gurun sejauh 10 kilometer. Penggunaan jutaan bibit tanaman seperti Populus euphratica terbukti sangat efektif karena akar mereka yang mampu menjangkau sumber air di kedalaman ekstrem. Teknologi irigasi tetes (drip irigation) otomatis juga dipasang untuk memastikan setiap tetes air memberikan manfaat maksimal bagi pertumbuhan hutan buatan tersebut.

Dari ketinggian, kita bisa melihat bagaimana keteraturan pohon-pohon ini membentuk benteng pertahanan ekologi yang kokoh.

Penanaman 5 juta pohon bakau gurun dan semak belukar ini setara dengan penyerapan 125.000 ton emisi karbon per tahun dari aktivitas industri. Sahabat Hijau, total area hijau yang tercipta mampu menurunkan kecepatan angin permukaan hingga 50 persen, sehingga badai pasir tidak lagi bersifat destruktif. Keberhasilan restorasi lahan seluas 2,5 juta hektar ini memberikan nafas baru bagi keanekaragaman hayati lokal yang sebelumnya sempat menghilang.

Zhang Ming, seorang ahli ekologi yang memimpin tim penghijauan di Xinjiang, menyatakan rasa bangganya atas perubahan drastis yang terjadi di lapangan. “Kami tidak hanya menanam pohon, kami sedang membangun masa depan bagi generasi yang akan lahir di tepi gurun ini,” tegasnya. Melalui konsistensi selama puluhan tahun, kini wilayah tersebut mulai merasakan udara yang lebih bersih dan tanah yang kembali bisa diolah.

Kegembiraan warga menjadi bukti nyata bahwa solusi ekologi yang tepat dapat mengembalikan kebahagiaan manusia.

Hutan buatan ini kini menjadi paru-paru baru bagi wilayah Xinjiang yang dulunya dianggap sebagai zona kematian yang tidak ramah bagi manusia. Sahabat Hijau, keberadaan vegetasi yang rapat kini mulai mengundang kembali spesies burung migran dan serangga penyerbuk yang sempat menghilang. Keseimbangan suhu mikro di sekitar sabuk hijau juga tercatat menurun hingga 3 derajat Celsius pada siang hari yang terik.
Perubahan ini secara perlahan menciptakan siklus hidrologi kecil yang memungkinkan embun pagi bertahan lebih lama di atas dedaunan. Sahabat Hijau, pemandangan hijau yang membentang luas kini menjadi batas permanen yang menghentikan invasi pasir ke wilayah-wilayah produktif lainnya. Langit di Xinjiang utara kini lebih sering menampilkan warna biru jernih tanpa gangguan kabut debu yang menyesakkan dada.