Ringkasan
🌿
Dedikasi Ir. Djati Witjaksono Hadi, M.Si., IPU., seorang rimbawan senior yang mengabdi selama lebih dari 4 dekade dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan Indonesia.
🌿
Berbagai diplomasi konservasi Hiu Paus di Papua hingga transformasi radikal komunikasi publik KLHK menjadi lembaga yang transparan dan informatif bagi masyarakat yang telah dilakukan
🌿
Djati menawarkan visi nyata dalam mitigasi bencana hidrometeorologi serta mengajak generasi muda untuk beraksi nyata menghadapi triple planetary crisis demi keberlanjutan masa depa
Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, Indonesia membutuhkan sosok yang tidak hanya paham regulasi di atas kertas, tetapi juga berani berjibaku di lapangan. Nama Ir. Djati Witjaksono Hadi, M.Si., IPU. atau yang akrab disapa Wiwied, muncul sebagai representasi rimbawan sejati yang telah mendedikasikan lebih dari 40 tahun hidupnya untuk menjaga sisa-sisa napas hijau bumi pertiwi.

Potret profesional Djati Witjaksono Hadi (baju kuning) bersama warga sebagai ahli kebijakan utama di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Sebagai seorang tokoh konservasi hutan Indonesia, perjalanan Djati adalah sebuah cermin tentang bagaimana integritas dan disiplin mampu mengubah wajah birokrasi di Kementerian LHK.
Kisah Djati dimulai dari nilai-nilai luhur yang ditanamkan sang ayah, seorang anggota TNI AD Angkatan ’45 menurunkan sifat kepemimpinan. Falsafah Jawa “Ojo Dumeh” atau “jangan mentang-mentang”, menjadi jangkar moral bagi Djati dalam memimpin berbagai jabatan strategis.
Kepeduliannya terhadap lingkungan bukanlah sebuah kebetulan karier, melainkan panggilan jiwa yang terasah sejak aktif sebagai anggota Pramuka di SMPN 62 Jakarta dan Pecinta Alam di SMAN 12 Jakarta. Pilihan studinya di Fakultas Kehutanan IPB Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan semakin mempertegas komitmennya: bagi Djati, hutan adalah fondasi utama kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Fondasi Disiplin dan Panggilan Jiwa Rimbawan

Mewakili Indonesia dalam berbagai forum Internasional
Djati memahami bahwa konservasi bukan sekadar melarang orang masuk ke hutan, melainkan mengelola keseimbangan ekosistem. Dedikasi ini membawanya melanglang buana, mulai dari menangani Unit Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Balai Besar KSDA Sumatera Utara hingga memimpin Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih di Papua Barat. Di setiap tempat yang ia singgahi, Djati meninggalkan jejak penyelamatan nyata, seperti saat ia mati-matian menyelamatkan Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut dari ancaman perambahan kawasan untuk tambak liar dan penebangan bakau ilegal.
Diplomasi Hiu Paus dan Transparansi Publik

Mengembangkan konten social media yang berhasil meningkatkan popularitas hiu paus hingga kunjungan wisata naik sepuluh kali lipat
Salah satu tonggak sejarah yang patut dicatat adalah keberhasilannya di Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua Barat. Djati tidak hanya bicara soal perlindungan Hiu Paus secara teknis, tetapi ia menggunakan kekuatan komunikasi untuk mengubah persepsi publik. Melalui kampanye kreatif dan pengembangan konten media sosial, ia berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan hingga sepuluh kali lipat. Ini adalah bukti nyata bahwa konservasi bisa mendatangkan kemakmuran ekonomi bagi daerah, dan masyarakat Kwantisore tanpa harus merusak alam.
Keberhasilan diplomasi lingkungan ini kemudian membawanya ke posisi krusial sebagai Kepala Biro Humas di Kementerian LHK pada tahun 2017. Saat itu, kementerian berada pada titik nadir dalam hal keterbukaan informasi. Dengan tangan dinginnya, Djati merevolusi pola kerja komunikasi kementerian.
Hasilnya luar biasa: dalam waktu singkat, Kementerian LHK melompat dari badan publik yang “Tidak Informatif” menjadi “Informatif” dengan nilai nyaris sempurna. Ia membuktikan bahwa keterbukaan informasi adalah kunci untuk mendapatkan kepercayaan publik dalam mengawal isu sensitif seperti pemanfaatan satwa liar yang dilindungi, kebakaran hutan dan perhutanan sosial serta mendukung reformasi birokrasi.

Di sela kesibukan Djati (kedua dari kanan) masih meluangkan waktu mengikuti bahkan menjuarai berbagai lomba memasak
Kini, sebagai Analis Kebijakan Ahli Utama, tugas Djati semakin kompleks. Ia berdiri di garis depan dalam memberikan rumusan kebijakan menghadapi tantangan yang ia sebut sebagai triple planetary crisis: perubahan iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati. Fokusnya saat ini adalah memperkuat jajaran Pusat Pengembangan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Hidrometeorologi pada perumusan kebijakan mitigasi bencana hidrometeorologi, sebuah isu yang sangat krusial mengingat seringnya banjir dan kekeringan melanda berbagai wilayah di Indonesia akibat rusaknya Daerah Aliran Sungai (DAS).
Djati menekankan bahwa pengelolaan DAS tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia terus mendorong penguatan kelembagaan kelompok tani hutan untuk ikut menjaga hulu sungai (DAS). Pengalamannya mengelola proyek manajemen hutan dan DAS berbasis komunitas di Sumatera Utara, Lampung, Wonosobo Jawa Tengah, Poso Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Timur Tengah Selatan NTT, saat mendapat amanah menjadi Direktur PEPDAS membuktikan bahwa masyarakat adalah sekutu terbaik dalam menjaga alam. Baginya, setiap kebijakan yang diambil harus mampu menjawab tantangan iklim sekaligus memberikan solusi nyata bagi kehidupan warga di sekitar hutan.
Warisan Hijau untuk Generasi Masa Depan
Di balik seragam dinasnya, Djati adalah sosok yang percaya pada kekuatan jejaring. Aktif di organisasi radio komunikasi seperti RAPI dan ORARI, ia menggunakan kemampuannya berkomunikasi untuk terus menyebarkan pesan-pesan hijau. Baginya, pensiun bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan transisi untuk terus menginspirasi generasi muda melalui pengalaman lapangan yang kaya.
Pesan penutupnya bagi kita semua selalu konsisten: lingkungan bukan sekadar warisan dari nenek moyang, melainkan titipan anak cucu yang harus kita kembalikan dalam kondisi baik. Melalui sosok Djati Witjaksono Hadi, kita belajar bahwa menjaga bumi adalah ibadah panjang yang membutuhkan ketekunan, kejujuran, dan aksi nyata. Mari kita pastikan bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini, menjadi bagian dari investasi besar untuk keberlanjutan hidup di masa depan.











