Ringkasan
🌿
Industri baja sedang mengalami perubahan besar menuju produksi rendah emisi.
🌿
Green steel hadir sebagai solusi untuk memangkas emisi dari proses pembuatan baja.
🌿
Peralihan ke green steel kini menjadi kebutuhan strategis bagi industri, bukan sekadar pilihan etis.
Baja dan Tantangan Emisi di Masa Depan
Baja memegang peran besar dalam kehidupan modern. Material ini digunakan untuk membangun rumah, gedung, jembatan, kendaraan, hingga turbin angin pembangkit listrik. Hampir setiap infrastruktur yang kita gunakan setiap hari bergantung pada kekuatan dan ketahanan baja. Tidak heran jika kebutuhan baja dunia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tantangan besar mengurangi jejak karbon di sektor manufaktur baja.
Saat ini konsumsi baja global sudah mendekati 2 miliar ton per tahun dan angkanya masih terus naik. Di balik manfaatnya, proses produksi baja membutuhkan energi dalam jumlah besar. Sebagian besar pabrik baja masih menggunakan batu bara sebagai sumber energi utama. Kondisi ini membuat industri baja menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia, dengan kontribusi sekitar 7 – 9% dari total emisi global.
Tantangan ini akan semakin besar karena permintaan baja diperkirakan meningkat sekitar 30% pada tahun 2050. Artinya, tanpa perubahan dalam cara produksi, tekanan terhadap lingkungan akan semakin berat. Di sinilah peran sahabat hijau menjadi penting untuk mendorong dukungan pada inovasi baja rendah emisi dan penggunaan material yang lebih ramah lingkungan. Kesadaran dan pilihan kita hari ini ikut menentukan seberapa bersih industri masa depan.
Baja Hijau dan Masa Depan Industri Rendah Emisi

Lokasi strategis di Swedia mendukung penuh keberlangsungan industri green steel melalui energi terbarukan.
Produksi baja mulai bergerak ke arah yang lebih bersih melalui pemanfaatan hidrogen hijau. Salah satu pelopornya adalah H2 Green Steel yang membangun pabrik di Boden, Swedia, dan menargetkan produksi komersial mulai tahun 2025. Dalam proses ini, hidrogen digunakan untuk menggantikan batu bara saat memisahkan oksigen dari bijih besi. Hasil samping utamanya bukan lagi karbon dioksida, melainkan uap air, sehingga dampak pencemaran udara turun drastis.
Hidrogen yang digunakan diproduksi melalui elektrolisis air dengan pasokan listrik dari sumber terbarukan seperti tenaga air dan angin di sekitar lokasi pabrik. Kombinasi teknologi ini membuat proses produksi baja menjadi jauh lebih rendah emisi dibanding cara konvensional. Pengurangan emisi bahkan diperkirakan mencapai hingga 95 persen. Perkembangan ini memberi harapan baru bagi industri berat yang lebih ramah lingkungan, dan sahabat hijau punya peran penting untuk terus mendukung transisi menuju material yang lebih bersih.

Inovasi teknologi menggantikan penggunaan batu bara.
Green steel hadir untuk mengurangi ketergantungan industri baja pada batu bara dengan mengubah proses dasarnya. Pendekatan ini berdiri di atas tiga pilar utama. Pertama, penggunaan skrap atau besi tua melalui daur ulang agar kebutuhan bahan baku baru dan energi turun. Kedua, reduksi berbasis hidrogen hijau untuk memisahkan oksigen dari bijih besi, dengan hasil samping berupa air, bukan karbon dioksida. Ketiga, elektrifikasi proses produksi dengan listrik dari sumber terbarukan sebagai pengganti panas dari bahan bakar fosil.
Gabungan ketiga langkah ini menargetkan produksi baja dengan emisi mendekati nol. Beberapa standar menetapkan ambang di bawah 0,3 ton CO2 per ton baja sebagai kategori near zero emission. Pencapaian target ini butuh inovasi teknologi, investasi, dan dukungan pasar yang konsisten. Di sinilah peran sahabat hijau penting, karena pilihan dan suara publik ikut mendorong percepatan industri baja yang lebih bersih.

Dukungan penuh dari Indonesia untuk transisi global menuju industri green steel yang lebih bersih.
Perkembangan Green Steel menunjukkan perubahan besar dalam industri baja. Tekanan dari krisis iklim dan perubahan permintaan pasar mendorong perusahaan untuk berinovasi lebih cepat dari sebelumnya. Sektor yang dulu dikenal lambat bertransformasi kini mulai bergerak menuju proses produksi yang lebih bersih dan efisien. Perubahan ini menjadi tanda bahwa industri berat pun mulai menyesuaikan diri dengan tuntutan keberlanjutan.
Green Steel kini tidak lagi dipandang sebagai pilihan tambahan, tetapi sebagai langkah strategis untuk masa depan industri. Perusahaan yang ingin bertahan perlu menyesuaikan proses produksinya dengan standar emisi yang lebih rendah. Dukungan kebijakan, investasi teknologi, dan kesadaran konsumen menjadi faktor penting dalam percepatan perubahan ini. Sahabat hijau memiliki peran besar dalam mendorong permintaan terhadap produk yang lebih ramah lingkungan agar transformasi ini terus bergerak maju.











